Kawah Mati, Keindahan Alam yang Tak Ada Matinya di Gunung Salak

Hasil gambar untuk keindahan kawah mati danau situ hiang


         Merupakan kawasan wisata alam yang berada di kawasan hutan Gunung Salak.
Untuk mendaki menuju Kawah Ratu banyak jalur yang bisa dilalui oleh pendaki, yaitu melalui desa Pasir Reungit Kecamatan Pamijahan, ataipun melalui Cidahu di kawasan Sukabumi.
Kawah Ratu berada didalam Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
Untuk menuju kawasan tersebut dari desa Pasir Reungit wisatawan harus membayar tiket sebesar Rp 15 ribu di pos pendakian.

         Selain itu wisatawan juga harus mengisi data diri lengkap sebelum melakukan pendakian.
Sebelum mencapai lokasi Kawah Ratu yang masih aktif, pendaki harus melewati Kawah Mati.
Saat melintasi Kawah Mati pendaki harus berhati-hati, karena kontur tanah kapur bekas aliran lahar sangat licin.
"Iya harus hati-hati karena di situ ada aliran air belerang dan kontur tanahnya lembek sepeti kapur gitu," ujar Yayang penjaga Pos TNGHS.
Keindahan kawah mati tidak kalah dengan keindahan kawah ratu.


Keindahan Hamparan Sawah Yang Menenangkan

Hasil gambar untuk hamparan sawah yang banyak petani

          Hijau kuning yang begitu indah. Burung-burung kecil terbang bebas kesana-kemari. Angin berhembus tak terlalu kencang, tak sekencang angin di lepas pantai, bagai penerima tamu yang tak berwujud menyapa hangat pengunjung. Ia menyapukan lelah dan penat yang berserakan di benak pikiran akibat aktifitas di kantor seharian. Sungguh itu pemandangan yang sulit ditemukan, bahkan kalau di kota, itu sudak tak ada. Semakin larut memandanginya, semakin cantik dia. Belum lagi ia semakin dipercantik dengan warna biru khas di langit yang begitu cerah yang ditemani oleh kilauan cahaya dari sinar-sinar terakhir mentari di sore itu. Tampak seorang lelaki paruh baya memakai topi bundar dengan bagian atas membentuk kerucut yang agak lebar memayungi kepalanya. Topi yang biasa dikenal orang sebagai topi “Pak Tani”. Lelaki itu sedang membungkuk. Entah apa yang ia kerjakan. Mungkin sedang membersihkan padi-padinya. Tidak terlalu jelas, karena ia berada di tengah-tengah sawah. Ia membungkuk sangat lama seperti tak kenal lelah. Mungkin karena ia dipacu oleh gelimangan semangat. Apalagi padi-padinya sebentar lagi siap untuk dipanen. “Salut sama Pak Tani,” ucapku dalam hati. Ku arahkan pandanganku kembali ke bentangan sawah yang cukup luas itu. Terlihat ada kelompok wanita di tepian sawah. Mereka memakai topi yang sama dengan yang “Pak Tani” tadi pakai. Mereka tampak seperti sebuah keluarga. Sangat hangat kebersamaan mereka, diiringi dengan tawa. Mereka sedang berjalan sambil membawa karung bekas yang sudah robek. Masing-masing karung yang mereka bawa berisi sayuran. Terlihat mereka membawa kangkung. 
Yang aku tahu itu kangkung. Aku tak sempat menanyakan kepada mereka karena harus meneruskan perjalanan pulang. Jam tanganku menunjukkan pukul 17.35. Aku harus melanjutkan perjalanan pulang karena akan berbuka puasa di rumah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini